Rabu, 29 September 2010
Senin, 27 September 2010
SALJU DI MADINAH
Jauh-jauh hari sebelum terjadinya turun salju di Arab Saudi dewasa ini sebagaimana diberitakan di atas, para ilmuan dari King Abdul Aziz University (Arab Saudi) bekerja sama dengan para ilmuan barat dan manca negara telah melakukan penelitian ilmiah mengenai fenomena-fenomena alam yang diterangkan dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Salah satunya mengkaji mengenai Hadist Rasulallah SAW di atas.Kajian ini antara lain dilakukan bersama dengan seorang orientalis, Profesor Alfred Kroner, seorang ahli ilmu bumi (geologi) terkemuka dunia, dari Department Ilmu Bumi Institut Geosciences, Johannes Gutenburg University, Mainz, Germany. Ketika ditanyakan kepada Prof. Korner oleh para Ilmuan King Abdul Aziz sebagaimana diterangkan dalam Islam dan Sains hal. 25-26 :
* Bagaimana Nabi Muhammad SAW bisa mengetahui bahwa dahulu kala jazirah/dataran Arab merupakan padang rumput yang subur dan dipenuhi oleh
sungai-sungai yang mengalir?….. Karena Prof Korner tidak beriman kepada Al-Quran dan Al-Hadist, ia menjawab dengan tuduhan bahwa bisa saja Nabi Muhammad SAW mengetahui hal tersebut dari kitab-kitab lama seperti Jabur,Tauret dan Injil yang sering menceritakan bahwa dulu di dataran Arab merupakan padang rumput yang subur dengan banyaknya cerita tentang para pengembala ternak, cerita-cerita tentang kebun anggur dan cerita-cerita tentang pemilik perkebunan yang subur yang sering diceritakan dalam kitab-kitab tersebut. Atau bisa jadi Nabi Muhammad SAW menconteknya dari ilmuan-ilmuan dari Roma pada saat itu.
* Menanggapi tuduhan Prof. Korner tersebut, Ilmuan King Abdul Aziz, menjawab OK, anda bisa saja menuduh seperti itu, tapi apakah keadaan dataran Arab yang subur dahulu kala itu bisa dibuktikan secara ilmiah pada masa Nabi Muhammad SAW hidup 1400 tahun yang lalu?…. Prof. Korner menjawab pada masa itu belum dapat dibuktikan, karena sains dan teknologinya tidak memungkinkan.
* Apakah hal itu benar-benar terjadi dan dapat dibuktikan secara ilmiah dengan teknologi canggih dewasa ini?… Prof. Korner menjawab ya!.. dahulu dataran Arab dipenuhi dengan kebun-kebun yang subur dan sunga-sungai yang mengalir, dan secara ilmiah keadaan tersebut dapat dibuktikan. Prof Korner menjelaskan bahwa dahulu selama Era Salju (Snow Age), kemudian Kutub Utara icebergs perlahan-lahan bergerak ke arah selatan sehingga relatif berdekatan dengan Semenanjung Arab, pada saat itu iklim dataran Arab berubah dan menjadi salah satu daerah yang paling subur dan hijau di muka bumi. Ini merupakan fakta sains yang tidak bisa dibantah.
* Pertanyaan selanjutnya, bagaimana Nabi Muhammad SAW dapat mengetahui juga bahwa sekali lagi dataran Arab itu akan menjadi daerah yang subur dipenuhi kebun-kebun dan sungai-sungai sebagai tanda datangnya hari kiamat, padahal pada masa itu 1400 tahun yang lalu teknologinya belum memungkinkan untuk mengetahui hal tersebut dan informasi tersebut satupun tidak diterangkan baik dalam kitab-kitab terdahulu maupun dalam penelitian ilmuan-ilmuan Roma?……. Prof. Korner menjawab dengn malu-malu, bahwa Nabi Muhammad SAW dapat mengetahui informasi itu pasti dari sesuatu yang mengetahui betul mengenai alam ini (cuma Prof. Korner mengelak untuk mengatakan secara terus terang bahwa sebenarnya informasi itu datangnya dari Tuhan, Allah SWT yang paling tahu tentang alam ini, karena Dia-lah yang telah menciptakan dan mengaturnya).
* Dan apakah informasi yang dikabarkan Nabi Muhammad SAW 1400 yang lalu bahwa sekali lagi dataran Arab itu akan menjadi daerah yang subur dipenuhi kebun-kebun dan sungai-sungai benar-benar akan terjadi?….. Prof Korner menjawab dengan tegas ya!… karena sebenarnya proses itu sekarang sedang terjadi. Era Salju Baru (New Snow Age) sebenarnya telah dimulai, sekali lagi sekarang salju di kutub Utara sedang merangkak/bergeser perlahan-lahan ke arah selatan mendekati Semenanjung Arab. Hal ini dapat dibuktikan dengan fakta dan sains, dimana tanda-tanda itu nampak dengan jelas di dalam badai salju yang menghujani bagian utara Eropa dan Amerika setiap musim salju tiba.Dan sekarang terbukti bahwa salju telah beberapa kali turun di dataran Arab sebagaimana diberitakan TV Arab Saudi dan RCTI di atas.
Kejadian di atas merupakan salah satu bukti yang telah dijanjikan Allah SWT bahwa firman-Nya yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW dalam Al-Quran dan Al-Hadist adalah benar datang dari Tuhan pencipta alam semesta ini, yaitu Allah SWT. Sebagaiman firman Allah SWT : “Al-Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al-Quran setelah beberapa waktu lagi” (QS. Shad :87-88)
Wahai umat manusia di dunia, apalagi yang yang menghalagi kita untuk beriman bahwa: “Tiada Tuhan selaian Allah, dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah”……. padahal kebenarannya telah terbukti?…….. dan hari kiamat telah di depan mata???……
Masih banyak lagi kebenaran tentang fenomena alam yang diterangkan dalam Al-Quran dan Al-Hadist yang dikabarkan 1400 tahun yang lalu yang baru terbukti secara ilmiah melalui penelitian sains dan teknologi canggih selama bertahuan-tahun sampai sekarang ini. Seperti kejadian manusia yang diterangkan secara rinci dalam Al-Quran yang baru terbukti secara ilmiah oleh ilmu kedokteran yang canggih dewasa ini, keterangan tentang tata surya kejadian gunung-gunung, kejadian laut dan keberadaan mata air tawar di dasar laut asin yang dalam, keterangan tentang saraf manusia, dan masih banyak lagi.
Al-Quran merupakan mu’jizat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan mu’jizat-mu’jizat lain yang diberikan Allah kepada para nabi Allah SWT yang lain. Mu’jizat merupakan salah satu bukti yang diberikan Allah untuk menunjukkan kepada umat manusia bahwa seseorang yang diutus itu benar-benar merupakan nabi dan untusan Allah SWT.
Mu’jizat diberikan Allah SWT disesuaikan dengan tarap berfikir masyarakat pada masa seorang nabi diutus Allah SWT kepada masyarakat terebut. Seperti mu’jizat nabi-nabi beriktu ini: Dengan kekuasaan Allah SWT Nabi Ibrahim AS tidak mempu dibakar api, Nabi Musa AS dapat membelah laut merah dengan tongkatnya, Nabi Isa AS dapat menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang buta dll. Mu’jizat-mu’jizat tersebut dapat dengan mudah dilihat dan diketahui oleh masyarakat pada masa itu tanpa harus melakukan penelitian dan pengetahuan yang canggih, karena dapat disaksikan dengan mata telanjang oleh orang-orang yang menyaksikannya. Tetapi mu’jizat tersebut hanya bisa disaksikan pada masa itu saja dan tidak dapat dibuktikan kembali oleh masyarakat masa sekarang, masyarakat sekarang hanya bisa mengetahui informasi tersebut dari firman-firman Allah SWT dalam Kitab-kitab-Nya. Karena memang nabi-nabi terdahulu diutus Allah terbatas hanya untuk masyarakatnya saja yang hidup pada masa itu saja.
Sementara Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir yang diutus Allah SWT untuk semua umat manusia di dunia sampai akhir zaman, sehingga mu’jizatnya yang terbesar berupa Al-Quran dapat dibuktikan oleh siapa saja kapan saja dan dimana saja sampai hari akhir, asalkan manusia mau mempelajari, mengkaji dan menelitinya.
Jumat, 24 September 2010
dewa budjana
| Nama asli / lengkap : | I Dewa Gede Budjana |
| Tempat / tgl lahir : | Waikabubak, 30 Agustus 1963 |
| Motto hidup : | " TAT TWAM ASI " |
| Musisi favorit : | Keith Jarret , Jeff Beck , Jaco Pastorius |
| Jenis music favorit : | Traditional |
| Album solo : | - ALBUM SOLO "NUSA DAMAI" (1997) - ALBUM ROHANI "NYANYIAN DHARMA" (1998) - ALBUM SOLO "GITARKU" (2000) - ALBUM SOLO "SAMSARA" (2003) |
| Group : | - SQUIRRELL (1980 - 1985) - SPIRIT (1989 - 1992) - JAVA JAZZ (1993 - 1994) - GIGI (1994 - Sekarang) |
| Website pribadi : | dewabudjana.com |
Dengar Budjana mulai genjrang-genjreng dengan gitar barunya, sang nenek pun (yang udah tahu kalo duitnya ilang Rp 10.000) langsung mafhum. Nyamperin Budjana yang lagi asyik dengan gitar barunya dan langsung dengan sedikit puitis (dasar pelantun kidung) ngomong ke doi : “Tadi malam aku mimpi kehilangan duit Bud…….”, ujar sang nenek. Budjana pun langsung berubah casting dari ‘penjahat’ menjadi ‘ksatria’, “Oh iya, itu memang aku yang nyuri”, aku Budjana polos. “Aku nyuri buat beli gitar”, sambung Budjana. Dan sang nenek udah nggak bisa apa-apa lagi. Beressss……..urusan casting ‘penjahat’ udah kelar, sekarang mulai casting peran baru dan panjang…….gitaris!
Wah, kayaknya casting gitarisnya belum clear bener dari pengaruh casting ‘penjahat’.
Sejak punya gitar Budjana jadi rada lesu darah untuk sekolah. Maunya gitaran terus aja sepanjang hari. Jelas itu bukan jenis kemauan yang bakal direstui sesepuh. Nah di sini nih casting ‘penjahat’nya masih ada. Whatever, bagi Budjana nomore satu adalah gitar. Jadi kalo jam berangkat sekolah dia pun pake seragam dan pamit ama kakek-neneknya berangkat sekolah. Akan tetapi………….karena lokasi kamarnya terpisah dari rumah induk dia pun dengan mudah setelah pamit sekolah puter balik kembali ke kamarnya dan langsung ‘menggauli’ gitarnya lagi sampe saat jam pulang sekolah langsung lanjut adegan ‘adegan sinetron’ pulang sekolah. Pake sepatu lagi, keluar kamar muter sedikit dan langsung balik ke rumah induk, say hello ama grandfa en grandma seakan pulang sekolah (he..he..he…bisa aja elo Budj!)
Ditanya soal materi apa aja yang dia ulik dengan gitarnya itu sepanjang hari, mengingat waktu itu jelas referensi untuk belajar gitar jelas minim banget – apa lagi untuk kota sekaliber Klungkung. “Yaah…cuman denger-denger dari kaset aja….sama ngarang-ngarang sendiri”, jelas Budjana. “Lagu pertama aku belajar gitar waktu itu lagunya Deddy Dores ‘Hilangnya Seorang Gadis’ dan lagunya Rollies ‘Setangkai Bunga’”, kenang Budjana. Saat itu Budjana sama sekali belum tersentuh literatur-literatur musik/gitar yang formal. Buru-buru buku gitar, untuk bisa ngikuti perkembangan musik – khususnya di Indonesia – aja dia harus bela-belain ke Denpasar tiap minggu untuk beli majalah Aktuil (satu-satunya majalah berita musik yang terbit di tahun tujuhpuluhan itu). Fenomena ini juga bisa ngegambarin gimana intensnya interes Budjana ke musik. Temen-temen sebayanya saat itu nggak bakal deh bela-belain tiap minggu ke Denpasar pulang balik hanya buat beli Aktuil. Lagian paling juga Budjana aja di lingkungan temen SD-nya yang tertarik ama majalah Aktuil. Paling bacaan mereka juga sejenis majalah Bobo gitu.
Tahun 1976 Budjana ikut bokapnya yang dipindahtugaskan ke Surabaya. Di Surabaya inilah tapak karirnya di musik semakin jelas. Dia melanjutkan sekolah di SMP Negeri I dan kebetulan sekolah yang satu ini kegiatan ekstra kurikulernya cukup oke punya, khususnya di sektor ekstra kurikuler musiknya. Tiap tahun sekolah ini menggelar malam kesenian untuk menampung aspirasi murid-muridnya di bidang seni.
Dan di SMP I ini pula Budjana mendapat pengalaman manggung pertama kali. Saat persiapan malam kesenian seperti biasa diadakan seleksi (audisi) buat murid-murid yang ingin tampil. Dan Budjana pun ikut ngedaftar dengan materi lagu andalan saat pertama kali dia bisa main gitar : “Setangkai Bunga”.
Tiga tahun dia menambah pengalaman dan jam terbangnya berolah musik dalam kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler di SMP I. Pucuk dicinta ulam tiba. Dia di Surabaya lebih bisa memuaskan kehausannya pada ilmu-ilmu bermusik secara lebih formal. Budjana mulai belajar gitar klasik kepada Pek Siong di Yayasan Seni Musik Indonesia . Sementara selama dia di Klungkung referensi musiknya masih sangat terbatas. Di Surabaya dia mulai mengenal dan tertarik pada jenis musik-musik lain yang sebelumnya belum dia kenal karena keterbatasan referensi tadi. Budjana mulai tertarik dengan John Mc Laughlin (Mahavishnu Orchestra) dan bahkan jadi mengubah visi bermusik Budjana. Album “Birds of Fire” dan “Natural Element” (Shakti) adalah album Mc Laughlin yang menjadi favorit Budjana. Selain itu dia juga cukup interes dengan musik-musik artrock semacam Yes, Gentle Giant dan lainnya.
Lulus SMP Budjana melanjutkan ke SMA Negeri 2 tahun 1980. Tak beda jauh dengan saat di SMP I, SMA 2 pun kegiatan musiknya sangat oke! Bahkan lebih intens. Saat di SMA ini Budjana mulai mendengarkan Pat Metheny dan ini sangat terpengaruh pada pola dan cara bermain gitar Budjana. Juga album-album produksi ECM seperti John Abercrombie, Keith Jarret dan Bill Frissel.
Tahun 1981 Budjana bersama beberapa temannya di SMA 2 membentuk Squirell Band dan bersama band inilah Budjana semakin berkiprah di blantika musik. Secara rutin Squirell mengisi acara jazz di TVRI stasiun Surabaya, juga panggung-panggung sekolah dan kampus di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Puncak prestasi Squirell adalah saat berhasil meraih juara I Light Music Contest di Jakarta tahun 1984. Saat itu Squirell membawakan komposisi Dewa Budjana “Nusa Damai”. Yang unik saat itu Budjana memakai fretless guitar desainnya sendiri (dengan body berbentuk bintang) yang sekarang sudah menjadi salah satu pajangan di Hard Rock Café Jakarta bareng gitar-gitar para gitaris dunia.
Tahun 1985 Budjana hijrah ke Jakarta dengan pertimbangan bahwa peluang untu mengembangkan karir di Jakarta lebih luas terbuka. Selain itu dia merasa teman-temannya bermusik di Surabaya dirasa nggak terlalu total ke musik, nggak seimbang dengan dia yang bener-bener total di musik dan itu dianggap akan menghambat karirnya secara individu maupun secara grup.
Mulailah sang ‘penjahat’ kecil membuka lembaran baru di ibukota.
Jurus Melawan Rutinitas Jakarta
Setelah berada di tengah-tengah ramenya Jakarta tahun 1985, apa yang dilakukan Budjana?
Merasa udah pernah meraih juara bareng Squirell di Light Music Contest setahun sebelumnya, Budjana menganggap sudah banyak orang tahu dan mengenal dirinya dia sebagai musisi. Belakangan terbukti dia cuma ge-er.
Ceritanya, berbekal referensi bahwa Squirell Band yang punya komposisi jazz sendiri, Budjana nekat datang ke pub untuk mulai menjajagi dunia entertain, lalu nyoba-nyoba nge-jam ama grup yang sedang main. Apa yang terjadi? Saat disuruh main lagu jazz standar yang termasuk gampang pun, ternyata dia nggak mampui nggak bisa.
Dari situ Budjana baru sadar manfaat belajar jazz standar. Budj (begitu panggilan akrabnya) langsung aja nemuin almarhum Jack Lesmana, maestro jazz kita, dan kepada bokap Indra Lesmana ini Budj ‘mendaftarkan’ diri sebagai murid. Memang nggak salah alamat kalo pengagum Mahatma Gandhi ini berguru pada Jack Lesmana, dari beliau Budj banyak mengenal dan mendapatkan filosofi-filosofi bermain jazz, termasuk – tentu saja -- standard jazz.
Lantas, kenapa memilih jazz? Budjana berkisah, awalnya karena pengaruh tren musik saat pertama dia mulai intens di musik. Di akhir tahun 70-an saat Budjana masih SMP di Surabaya, yang sedang ngetren adalah musik-musik yang saat itu diistilahlan sebagai jazz rock atau juga jazz kontemporer. Banyak kaset-kaset yang beredar dengan label atau judul “Contemporary Jazz”, “Jazz Vocal” dan sebagainya dengan materi seperti musisi Al Dimeola, John Mc. Laughlin ataupun grup-grup seperti Weather Report, Return to Forever, dll.
Budjana mengaku banyak belajar dari situ. Saking seringnya tampil bersama Squirell-nya dalan event jazz di Surabaya, akhirnya orang lebih mengenal Budjana sebagai pemain jazz. Padahal Budjana dan temen-temennya di Squirell sebenarnya nggak ada yang nguasain jazz secara yang sebenarnya. Di lingkungan musisi jazz sudah membudaya kalo lagi ngumpul-ngumpul secara spontan mereka akan main bareng, istilahnya nge-jam. Ternyata, setiap kali kesempatan itu datang anak-anak Squirell selalu mati kutu. Jazz bohong-bohongan dong?
“Yah mungkin waktu itu kita cuma kebawa tren aja, jadi rada ada sok jazz-nya lah, cuma kenal kulitnya doang. Nggak mikir bahwa perlu belajar serius dari yang standar”, kilah Budjana. Melewati masa itu menurut Budjana ada bagusnya juga. “Kita jadi punya bekal dan terasah untuk menjadi senang bikin komposisi sendiri”, ujarnya. Kreasinya yang pertama untuk komposisi combo berjudul Legong Kusamba.
“Sebelum itu sih sering juga ngarang-ngarang untuk kebutuhan operet di sekolah, tapi sifatnya ya hanya sepenggal-sepenggal aja sesuai dengan kebutuhan cerita”, jelas penggemar warna biru ini.
Setelah merasa cukup punya bekal dari sang suhu, tahun 1986 Budjana ‘turun gunung’ mulai berkiprah dari pub ke pub sebagai session player memainkan top 40 dan musik-musik lain konsumsi dunia hiburan malam. Selain itu juga main di klub-klub jazz. Itu berlangsung sampai tahun 1993. Ditanya soal dampak positif-negatifnya main rutin di dunia hiburan malam selama itu Budjana menjelaskan, “Kami jadi lebih mengenal dan lebih peduli tentang sound (warna suara) khususnya kalo kami bawain top 40 sebab kami kan bawain macam-macam lagu. Kami jadi mengenal berbagai jenis lagu. Selain itu menambah reflek kami dalam bermain musik, dengan seringnya main kalo kami denger satu chord, kamiharus main ke mana, mainin yang gimana jadi bisa lebih reflek ngikutinnya”.
“Satu lagi, kami bisa belajar menghargai orang lain, dalam hal ini adalah tamu-tamu pub. Kami nggak bisa main semaunya sendiri tanpa mempedulikan selera tamu”, lanjut Budjana. Dampak negatifnya menurut Budjana kelamaan main di pub cenderung menghilangkan kreativitas.
“Untungnya waktu itu aku masih sering ke Farabi (yayasan/sekolah musik. red.) Ngajar, terus kadang-kadang latihan dengan formasi trio, walaupun frekuensinya kecil paling tidak aktivitas berkreasi masih terjaga”, sambungnya.
Pada umumnya segala aktivitas yang sifatnya rutin tanpa penyegaran-penyegaran akan membuat kita jadi jenuh, suntuk, mentok dan akhirnya mandeg. Untuk mengantisipasi itu Budjana punya kiat rada unik. Saat dia rutin memainkan jazz standar di klub-klub jazz, di luar itu sehari-harinya dia malah dengerin lagu-lagu pop seperti milik Toto. Sebaliknya saat di udah gabung ama Hydro – yang dominan bawain lagu-lagu sejenis Toto – dia malah sering dengerin lagu-lagu jazz standar. Biar seimbang, mungkin itu maksudnya.
Budjana memang lolos dari jebakan rutinitas ‘main malam’ (istilah musisi untuk main rutin di pub, café atau klub)., karena di samping itu juga aktif sebagai session player di dapur rekaman, di konser-konser big band/orchestra juga sempat gabung dengan beberapa band.
Awal Budjana hijrah ke Jakarta sempat gabung dengan Indra Lesmana Group. Juga sebagai gitaris di Jimmy Manoppo Big Band, Orkes Telerama, Elfa’s, Twilite Orchestra, Erwin Gutawa Orchestra dan lain-lain. Tentu saja aktivitas-aktivitas itu menuntut kemampuan dalam membaca dan memahami not secara prima. Di sini Budjana lebih banyak lagi belajar membaca not dan makin banyak mengenal karakter musik.
Sebagai session player di dapur rekaman cukup banyak juga petikan gitarnya menghiasi album rekaman seperti : Catatan si Boy 2, Indra Lesmana, Andre Hehanusa, Heidy Yunus, Memes, Chrisye, Mayangsari, Dewi Gita, Desy Ratnasari, Potret, Trakebah, Caesar (Deddy Dores), Nike Ardila, dll.
Tahun 1989 Dewa Budjana gabung dengan Spirit Band dan sempat menghasilkan dua album. Yang pertama dirilis tahun itu juga dengan judul yang sama dengan nama grupnya, “Spirit” , dan yang kedua dirilis pada 1993 dengan judul “Mentari” yang diambil dari judul lagu karya kolaborasi Budjana (lagu) & Ingrid Widjanarko (lirik). Lepas dari Spirit, pengidola Bill Frissel ini gabung ama Indra Lesmana, Embong Rahardjo dan lainnya membentuk Java Jazz dan bermain rutin di Jamz. Setahun kemudian Java Jazz ikut ambil bagian di perhelatan akbar musisi jazz dunia North Sea Jazz Festival di Den Haag Belanda. Tahun itu juga grup jazz ini menelurkan album dengan judul Bulan di Atas Asia.
Pada 1992 Budjana pernah menyampaikan keinginannya untuk membentuk grup band dengan dua pemain gitar. Keinginannya tersebut baru terwujud dua tahun kemudian, yaitu pada 1994. Dia membentuk band dengan formasi dua gitaris, berpasangan dengan Baron. Band itulah yang sekarang kamu kenal dengan nama GIGI.
Nggak kejebak rutinitas di GIGI Budj? “Pasti terjadi juga, kayak saat tur Kilas Balik 33 kota pasti timbul kejenuhan, bedanya kalo di GIGI kan dalam rutinitasnya masih ada rutinitas aktivitas berkarya, nggak seperti ‘main malam’ yang terus memainkan lagu orang. Itu yang paling bahaya!”, tandasnya.
“Lagipula di GIGI kan kerja tim. Dalam proses kreatif bisa saling mengisi, kalo yang satu lagi turun mood-nya yang satunya mood-nya lagi bagus. Jadi proses kreatif secara tim akan terus berjalan”, lanjutnya. Selain itu Budjana membuat komposisi-komposisi untuk album solonya juga merupakan satu bentuk penyegaran yang lain dari aktivitas di GIGI. Makanya dia punya target paling tidak dua atau tiga tahun sekali dia rencanakan bikin album solo di tengah program album GIGI yang targetnya setahun sekali.
Tahun 1997 Budjana menelurkan album solo pertamanya dengan judul “Nusa Damai” yang merupakan kumpulan komposisinya sejak awal doi mengenal gitar. Banyak pemerhati musik menyebut Nusa Damai sebagai otobiografi perjalanan musik gitaris penggemar film action ini. Di salah satu nomor album ini (“Ruang Dialisis”) Budj melibatkan almarhumah neneknya – yang duitnya pernah dicuri ‘Budjana kecil’ untuk beli gitar (baca edisi Juni) – untuk melantunkan kidung. Tahun ini Budjana juga sudah merampungkan album solo keduanya yang diberi judul “Gitarku” yang tinggal tunggu jadwal rilis aja.
Ditanya tentang gimana membagi waktu antara kegiatannya di GIGI dengan program solonya yang mungkin nantinya akan menyita banyak waktu, misalnya, untuk promo dan konser-konsernya, dia menjawab mantap: “GIGI tetap prioritas utama!” (baca box: Ketika Budjana Harus Memilih).
Ketika Budjana Harus Memilih….
Bak judul sebuah sinetron, begitulah kehidupan Dewa Budjana. Baginya, GIGI merupakan bagian terbesar dari perjalanan karirnya sebagai gitaris. Karena itu, ketika ditanya kemungkinannya untuk cabut dari grup tersebut, dia menjawab dengan mantap. “Nggak mungkinlah aku ninggalin GIGI, kecuali ada kondisi-kondisi yang nggak memungkinkan lagi aku bareng anak-anak GIGI lainnya di Jakarta”. Maksudnya, mungkin aja kan terjadi kasus-kasus seperti di Ambon atau lainnya yang udah menyangkut SARA. Mau nggak mau dia bakal ngacir ke Bali. “Kan nggak mungkin aktivitas GIGI berpusat di Bali”, katanya berandai-andai.
Kekhawatiran mungkin Budjana terlalu berlebihan. Maka, hal itu sebaiknya lebih dilihat sebagai ungkapan rasa cintanya pada GIGI. Atau sekadar basa-basi?
“Selama aku pernah ngengrup sebelum GIGI dan dari pengamatanku pada grup-grup yang ada, kayaknya di GIGI lah ku temui bentuk toleransi yang paling bagus”, begitu alasannya. “Sebetulnya kurang objektif kalo aku yang ngomong soal ini, karena aku ada di dalamnya. Harusnya orang lain ya yang ngomong. Tapi kenyataannya ya gitu itu yang aku rasakan”, sambungnya.
Memang dalam sebuah grup musik selain faktor teknis maupun non teknis, toleransi antar personel adalah faktor yang tak kalah penting. Perjalanan GIGI dari awal terbentuknya memang tidak mulus. Hengkangnya Baron, cabutnya Thomas, keluarnya Ronald, kemudian masuknya Budhy dan Opet dilanjut dengan resign-nya Opet dan kembalinya Thomas merupakan guncangan-guncangan beruntun yang menguji kekokohan GIGI. Dan waktu telah membuktikan bahwa Budjana-Armand cukup tegar dalam mempertahankan eksistensi GIGI.
Seperti diketahui, Dewa Budjana sempat merilis album solo berjudul, Nusa Damai, yang bernuansa personal dan jauh dari unsur komersialisme. Tapi tak tertutup kemungkinan bahwa jenis musik seperti ini suatu saat bakal bisa diterima. Dengan catatan strateginya mendapat perlakuan yang sama. Artinya, di situ ada perencanaan, kerja sama dengan berbagai kalangan, dan lain sebagainya. Ini kan hal yang menarik.
Budjana sendiri bukannya tidak menginginkan kondisi-kondisi seperti itu. Tapi, baginya toleransi hal yang paling penting. “Yang sulit dalam hidup ini kan toleransi…dan di GIGI toleransi itu sangat bagus”, ujarnya. Dia lantas bercerita tentang Armand Maulana yang lebih sering punya peluang untuk berkarier sendiri di luar grup, kayak jadi presenter, model iklan, atau apa pun. Toh kenyataannya peluang itu nggak pernah diambil. Lantas Budhy Haryono, misalnya. Tahun lalu pernah mendapat tawaran untuk ikut konser atau workshop selama beberapa minggu di Australia. Tawaran yang bagus itu nggak diambil karena GIGI jadwalnya lagi padat.
“Aku pun begitu, GIGI adalah prioritas utama. Kalo aku bikin album solo, itu sekadar media untuk menyalurkan ekspresi dan kreativitas aja”, jelas gitaris yang suka traveling ini. “Sifatnya lebih eksklusif, kalo GIGI konsernya bisa padat banget (setahun bisa sampai 68 kali show. red), untuk soloku misalnya dalam bentuk konser gitar okestra setahun cuman empat kali udah cukup buat aku. Sekadar pengen ada aja sebagai simbol album soloku”, sambungnya. “Karena nggak mungkin ngejalanin bareng-bareng dengan kapasitas yang sama. Nggak mungkin bisa didapat dua-duanya”, lanjutnya lagi.
Kamis, 23 September 2010
10 GITARIS TERBAIK DI DUNIA
Seni merupakan hal yang sangat luas pengertiannya, dari Musik, Film, Lukis, dan beragam macam Seni yanga da di seluruh dunia ini ada untuk dinikmati para penggemarnya. Salah satu seni yang membuat maraknya dunia adalah musik. dan kali ini, serbatop akan membahas pemain gitar terbaik di dunia. Nama-nama seperti JimiHendrix, Steve Vai, Joe Satriani, atau Yngwie Malmstein, Eric Clapton, atau Carlos Santana mungkin sudah tidak asing lagi.
Untuk Urusan terbaik, adalah hal yang subjektif dan tidak pasti seperti ilmu sains. tergantung para penikmat musik itu sendiri dan dari sisi mana mereka melihat kemampuan sang gitaris tersebut. ini adalah list yang saya dapatkan dari tetangga sebelah. setelah meminta izin ke sang empunya blog, akhirnya di peroleh izin untuk menerbitkan listnya disini, atau kalau mau langsung meluncur ke sang pemilik asli postingan ini, silakan disini
Untuk Urusan terbaik, adalah hal yang subjektif dan tidak pasti seperti ilmu sains. tergantung para penikmat musik itu sendiri dan dari sisi mana mereka melihat kemampuan sang gitaris tersebut. ini adalah list yang saya dapatkan dari tetangga sebelah. setelah meminta izin ke sang empunya blog, akhirnya di peroleh izin untuk menerbitkan listnya disini, atau kalau mau langsung meluncur ke sang pemilik asli postingan ini, silakan disini
- Jimi Hendrix ("Sang Dewa Gitar")
Gitaris rock zaman kini yang mencari guru abadi atau sekadar melongok puncak permainan hanya akan menemui satu orang: Jimi Hendrix. Kepadanyalah, dan dari dia sajalah, segala teknik yang ada sekarang dirujukkan. Simak pengakuan-pengakuan yang dipublikasikan majalah Guitar (November 1997): "Dialah hal terbesar yang pernah kulihat," kata Stevie Ray Vaughn, . gitaris bluesyang tewas dalam kecelakaan helikopter pada 1990.
"Sependapat, Keith Richards, pemetik gitar The Rolling Stones, menyatakan bahwa Stevie "memainkan ramuan materi yang sangat menarik". Dan Eric Clapton, salah seorang gitaris yang pada 1970-an dijuluki dewa gitar, mengakui dengan Jimi-lah "aku akhirnya merasa bertemu orang lain yang bisa kuajak bicara dan bermain".
Fenomena itu sebenarnya paradoks dengan kenyataan bahwa Jimi sudah tak ada lagi. Ia meninggal di Rumah Sakit St. Mary Abbot, London, karena berlebihan menelan obat bius. Konon, ia sengaja mengakhiri hidupnya sendiri (pesan-pesan dan pernyataan-pernyataannya sebelum itu, seperti dikutip Q Encyclopedia of Rock Stars, antara lain, berupa: "Aku sudah mati sejak lama.")
Namun jika memperhatikan benar, Jimi-lah yang "menemukan" hampir semua kemungkinan eksplorasi bermain gitar. Pada masanya, ketika aksesoris sound masih sangat terbatas, ia sudah memainkan wah dan distorsi secara sempurna — yang lalu menjadi fondasi rock "n roll di masa-masa sesudahnya. Ia bahkan melengkapi diri dengan jurus-jurus akrobatik, misalnya memetik senar dengan gigi.
Lahir pada 27 November 1942 di Seattle, Amerika Serikat, dengan nama Johnny Allen Hendrix, Jimi menaruh perhatian pada musik, khususnya gitar, sejak kecil. Jagoan gitar pada masa-masa itu, seperti B.B. King, Muddy Waters, Buddy Holly, dan Robert Johnson, menjadi idolanya. Gitar pertama, jenis akustik, diperolehnya dari ayahnya pada musim panas 1958. Dengan modal itu ia bergabung dengan The Velvetones. Dan sejak itu jalan hidupnya seperti sudah digariskan.
Dengan The Velvetones Jimi hanya ikutan tiga bulan. Pada musim panas berikutnya, berbekal gitar listrik baru yang diperolehnya, lagi-lagi, dari ayahnya, Jimi bergabung dengan The Rocking Kings. Sesudah itu Jimi sempat mengikuti wajib militer, dan membentuk band di barak, tapi tak lama. Cedera menyebabkannya diberhentikan dari dinas. Perubahan besar terjadi ketika, sebagai gitaris pocokan yang sudah kenyang bermain dengan bermacam artis, pada 1966, ia bertemu Chas Chandler, pembetot bas Animals — band yang punya hit The House of the Rising Sun.
Chas, yang memutuskan keluar dari Animals dan memilih pekerjaan baru sebagai manajer, membawa Jimi ke Inggris. Di sana Chas mempertemukan Jimi dengan Mitch Mitchell, dramer, dan Noel Redding, pemain gitar yang diminta membetot bas. Bersama mereka berdua, Jimi lalu membentuk Jimi Hendrix Experience.
Experience cepat melambung. Single pertamanya, Hey Joe, sempat 10 minggu ngendon di tangga lagu-lagu Inggris, mencapai posisi tertinggi keenam pada awal 1967. Sukses ini segera disusul album Are You Experience?. Inilah rekaman yang disebut-sebut sebagai kompilasi baru musik yang sama sekali radikal; album yang menyuarakan semangat generasi pada masa itu.
Tapi popularitas di negeri sendiri baru diperoleh ketika Jimi berkesempatan manggung di Monterey International Pop Festival, County Fairground, Monterey, Kalifornia, pada 1967. Di sinilah Jimi memamerkan aksi teatrikal yang fenomenal: membakar dan menghancurkan gitarnya.
Bendera karier Jimi terkerek tinggi-tinggi sejak itu. Berturut-turut, dalam waktu kurang dari setahun, antara 1968-1969, bersama Mitch dan Noel, ia merilis Axis: Bold as Love dan album ganda Electric Ladyland. Pada album yang disebut terakhir Jimi, yang akhirnya memiliki studio sendiri, mengerahkan seluruh kemampuannya sebagai gitaris maupun sebagai operator-sound engineer. Sukses besar. Tapi korban tak terhindarkan: Experience bubar.
Jimi memang tak lalu ikut tenggelam. Ia bahkan masih sempat meramaikan festival band yang hingga kini tak terlupakan dalam sejarah musik rock: Woodstock Music & Art Fair. Waktu itu tahun 1969. Jimi, yang tampil bersama Gypsy Sons & Rainbows (antara lain diperkuat Mitch), mengantongi bayaran 125 ribu dolar Amerika Serikat, tertinggi di antara para artis lain.
Sebuah bayaran yang pantas, tapi, rupanya, itulah penampilan akbar terakhir bagi Jimi. Setahun kemudian ia lebih memilih meninggalkan semuanya, selama-lamanya. Secara fisik, sih. Soalnya, pengaruh Jimi justru tetap hidup hingga kini. - Joe Satriani (" Steve Vai: selama Joe Satriani tetap berkarya, saya akan tak akan kehilangan inspirasi")
Joe Satriani, pertama kali belajar gitar pada saat berumur 14 tahun. Pada umur 15 tahun, Joe sudah mengajar gitar (selama 3 tahun) kepada beberapa muridnya yang antara lain adalah Steve Vai, Kirk Hammet (Metallica) dan Larry LaLonde (Primus). Dapat dibayangkan betapa tekunnya dan cepatnya Joe mendalami permainan gitarnya.
Sambil mengajar di Second Hand Guitar, Berklee, Joe merilis albumnya yang pertama tahun 1986 yang berjudul Not Of This Earth. Tahun berikutnya, Surfing With The Alien dirilis dan mendapatkan gold dan platinum sales. Tahun 1989 Surfing in a Blue Dream pun dirilis dan mencapai angka 750.000 keping untuk penjualannya dan masuk ke nominasi Grammy Awards. Tahun 1992 The Extremist dirilis yang juga masuk nominasi Grammy Awards dan mencapai peringkat 24 di Billboard chart.
Tahun berikutnya, Time Machine (dobel CD) dirilis. Di tahun 1995 album yang berjudul Joe Satriani dirilis dan lagu My World masuk nominasi Grammy Awards. Tahun 1998 Joe merilis albumnya yang ke delapan berjudul Crystal Planet.
Di tahun 2000 Joe merilis album Engines Of Creation. Di album ini Joe melakukan eksperimen dengan rekaman menggunakan rhytm-rhytm yang dibuat di komputer. Tahun 2001 Joe merilis album live nya Live in San Fransisco.
Selain merilis album solonya, Joe Satriani juga merupakan penggagas diadakannya G3. Bersama Steve Vai, Joe sudah beberapa kali mengadakan konser G3 dengan dewa gitar lainnya seperti Eric Johnson (1996), Adrian Leggs, Kenny Wayne Shepherd dan Robert Fripp (1997), Michael Schenker dan Uli John Roth dengan Brian May sebagai Guest Star untuk show di London dan Patrick Rondat di Perancis (1998) dan John Petrucci (2001).
Joe Satriani juga berpartisipasi dalam proyek Merry Axemas-nya Steve Vai dan memainkan satu lagu Silent Night yang di aransemen ulang dan juga pernah mengisi posisi gitar untuk Deep Purple di tahun 1990-an. - Steve Vai ("Dewa gitar yang flamboyan dan serba bisa")
Siapa yang tidak kenal dengan dewa gitar yang satu ini? Permainannya mulai dari blues, jazz, rock sampai klasik dan ethnic music. Permainan gitarnya pun tidak terbatas pada komunitas gitar saja tetapi juga bagi orang-orang awam yang tidak mendalami gitar.
Pada umur 6 tahun, Steve mulai belajar piano. Pada umur 10 tahun, Steve mulai belajar bermain akordeon. Pada umur 13 tahun barulah Steve mulai mendalami gitar dan sejak saat itu lahirlah seorang dewa gitar yang baru.
Steve Vai mengawali karirnya dengan album debutnya Flex-Able Leftovers pada tahun 1984. Pada tahun 1990, Steve merilis album keduanya yang berjudul Passion and Warfare.Album ini mendapat pengakuan internasional dan Steve memenangkan polling pembaca majalah Guitar Player dalam 4 kategori yang berbeda.
Album Steve yang ketiga berjudul Sex & Religion dirilis tahun 1993 dan album keempatnya Alien Love Secrets dirilis tahun 1995. Pada tahun 1996 album kelima Steve Fire Garden dirilis.
Tahun 1999, Steve meluncurkan album keenamnya yang berjudul Ultra Zone. Dalam album ini Steve lebih banyak memfokuskan dirinya dalam komposisi lagu dan bereksperimen dengan gitarnya.
Tahun 2001 album The Seventh Song dirilis dan album ini berisi lagu-lagu slow/ballad yang pernah dirilis Steve dengan ditambah beberapa lagu baru. Dan di tahun 2001 Alive in an Ultra World pun dirilis.
Steve Vai juga pernah memproduksi 2 album Natal yang berjudul Merry Axemas Vol.1 dan Merry Axemas Vol.2, juga konser G3 bersama Joe Satriani dan Eric Johnson/Kenny Wayne Shepherd dan terakhir John Petrucci turut juga bergabung dalam G3.
Belakangan ini Steve Vai lebih memfokuskan diri bereksperimen pada permainan gitarnya dan sekarang ini band Steve Vai ditambah seorang pemain bass yang sudah tidak asing lagi buat fans-fans rock tahun 80-an, Billy Sheehan. Belum pasti kapan album barunya akan beredar, kita tunggu saja… liberty and justice for all! - John Petrucci ("Salah satu gitaris progressive yang paling popular")
John besar di Long Island, tepatnya di King park, dimana dia, john myung & Kevin moore bersekolah bersama. John mulai Belajar gitar ketika masih berumur 12 tahun (sebelumnya dia pernah belajar ketika berumur 8 tahun tetapi menyerah ketika Dia melihat kakak perempuannya harus begadang tiap malam belajar main organ. Dia tidak merencanakan untuk menjadi seperti Itu, Dia belajar gitar sepulang sekolah dan akhirnya dia menjadi tidak tertarik lagi).
Namun dia mulai banyak terpengaruh Oleh permainan gitar dari gitaris semacam Yngwie Malmsteen, Randy Rhoads, Iron Maiden, Steve Ray Vaughn, dan grup besar Semacam Yes, Rush, Dixie dregs dan lain lain dia mulai bertekad untuk mencapai level permainan seperti mereka.
Sebagaimana kemunculan musik trash metal yang membuat John tertarik, maka John juga memperluas influence nya dengan Mendengarkan Metallica & Queensryche. John merasa membutuhkan tantangan yang lebih dalam tehnik guitar oleh karena itu Dia banyak mengadaptasi hammering speed & melodic style dari gitaris-gitaris seperti Steves (Steve Morse & Steve Vai), The Als (Allan Holdsworth & Al Dimeola) Mike Stern, Joe Satriani, Neal Schon & Eddie Van Halen.
Pendidikan musiknya dimulai dengan berbagai kelas teori musik yang dia ambil ketika high school. Dia belajar secara otodidak, tetapi dia sempat menerima beberapa pelajaran gitar yang dia ambil ketika dia masuk ke Berklee College of Music di Boston, dimana dia Mempelajari komposisi jazz dan harmoni.
Ketika di Berklee John Petrucci dan John Myung yang juga belajar di berklee bertemu dengan Mike Portnoy, dan mereka mulai membuat band yang diberi nama Majesty yang nantinya kemudian berganti nama menjadi Dream Theater. John sudah merekam 7 album dengan Dream Theater, dan dia juga banyak terlibat dengan beberapa proyek sampingan seperti Liquid Tension Experiment Dengan Tony Levin, Age of Impact, dan bahkan game Sega Saturn yang disebut Necronomicon, dan juga terakhir dia terlibat dalam proyek G3 Bersama Joe Satriani dan Steve Vai. Kecintaan dia pada menulis lirik dikombinasikan dengan gaya komposisi yang unik dari progressive fusion Mengasah bentuk musik dari Dream Theater.
John tinggal bersama istrinya Rena, dan 3 anaknya SamiJO, Reny, dan Kiara di New York. Ketika dia tidak bermain gitar dia banyak menghabiskan Waktunya dengan istri dan anak-anaknya dengan bermain skating, bersepeda, berolahraga dan menontong film.
John sedang merencanakan membuat solo albumnya yang pertama. Lagu-lagu barunya yang dia mainkan ketika bersama G3 juga akan ada di solo album tersebut. Jaws of Life (sebelumnya I.B.S.), Damage Control and Glasgow Kiss. Dia melibatkan beberapa musisi seperti Dave LaRue pada bass, Dave DiCenso dan Tony Verderosa pada drum. - Yngwie Malmsteen ("Pahlawan dan pelopor gitaris shredder sedunia dari Swedia")
Yngwie Malmsteen merupakan pelopor yang melahirkan seluruh gitaris shredder yang kami tampilkan di website ini. Setelah Eddie Van Halen (Van Halen) pertama kali membawakan tembang "Eruption" pada tahun 1978 yang memperkenalkan teknik "two handed tapping", Yngwie meluncurkan album klasik baroque shred debutnya "Rising Force" yang mengegerkan komunitas gitar rock, menciptakan standar baru untuk kecepatan & keahlian dalam bermain. Warna "Neo-Classical" yang di bawahkan Yngwie adalah berdasarkan struktur komposisi dari J.S Bach (1685-1750) dan Niccolo Paganini (1782-1840).
Setelah itu muncul para gitaris shredder yang menghasilkan sekian banyak album yang sukses. Hampir setiap minggu muncul gitaris baru yang mengklaim dirinya sebagai gitaris baru yang paling cepat di dunia. Sebagai contoh: Paul Gilbert, Marty Friedman, Jason Becker, Richie Kotzen, Vinnie Moore, Tony Macalpine, Greg Howe, dll. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Yngwie merupakan pahlawan gitar yang patut diacungi jempol.
Pernikahan ayah Yngwie (seorang kapten tentara) dan ibunya (Rigmor - seniman) diakhiri dengan penceraian tidak lama setelah Yngwie lahir. Di samping itu Yngwie juga memiliki seorang kakak perempuan bernama Ann Louise dan kakak lelaki Bjorn. Yngwie terlahir sebagai anak bungsu yang liar, tidak bisa diatur dan ceria.
Pada awalnya Yngwie mencoba untuk mempelajari piano dan trumpet tetapi ia tidak dapat menguasai alat musik tersebut. Acoustic guitar (gitar bolong) yang dibeli oleh ibunya pada waktu dia berusia 5 tahun juga tidak disentuh Yngwie dan dibiarkan bergelantung di dinding.
Sampai akhirnya pada tgl 18 September 1970, Yngwie melihat sebuah acara spesial mengenai meninggalnya Jimi Hendrix. Di situ Yngwie yang masih 17 tahun tsb menyaksikan bagaimana Jimi Hendrix menghasilkan bunyi feedback guitar dan membakar gitarnya di depan penonton. Pada hari wafatnya Jimi Hendrix tsb lahirlah permainan gitar Yngwie.
Yngwie yang penasaran tersebut kemudian membeli sebuah Fender Stratocaster murah, mencoba memainkan tembangnya Deep Purple dan menghabiskan banyak waktu untuk mengetahui rahasia dari alat instrumen dan musiknya sendiri. Kekaguman Yngwie terhadap Ritchie Blackmore (gitaris Deep Purple) yang dipengaruhi oleh musik klasik dan kekaguman terhadap kakak perempuannya yang sering memainkan komposisi Bach, Vivaldi, Beethoven, dan Mozart, memberikan ide kepada Yngwie untuk menggabungkan musik klasik tersebut dengan musik rock. Yngwie terus bermain seharian penuh sampai tidurpun dia masih tetap bersama gitarnya.
Pada usia 10 tahun, Yngwie menggunakan nama kecil dari ibunya "Malmsteen", mengfokuskan seluruh energi dia dan berhenti bersekolah. Di sekolah Yngwie dikenal sebagai pembuat onar dan sering berantem, tetapi pintar dalam pelajaran bahasa Inggris dan seni. Ibunya yang menyadari bakat musiknya yang unik, mengizinkan Yngwie tinggal di rumah dengan rekaman dan gitarnya. Setelah menyaksikan violinis Gideon Kremer membawakan komposisi Paganini: 24 Caprices di televisi, Yngwie akhirnya mengetahui bagaimana cara mengawinkan musik klasik dengan skill permainan dan karismanya.
Yngwie dan beberapa temannya merekam 3 lagu demo dan dikirim ke studio rekaman CBS Swedia, tetapi rekaman tersebut tidak pernah digubris atau diedarkan. Oleh karena frustasinya, Yngwie menyadari bahwa dia harus meninggalkan Swedia dan mulai mengirimkan demo rekaman dia ke berbagai studio rekaman di luar negeri. Salah satu dari demo tape Yngwie ternyata jatuh ke tangan konstributor Guitar Player dan pemilik Shrapnel Records: Mike Varney. Akhirnya Yngwie mendapat undangan ke Los Angeles untuk bergabung dengan band terbaru Shrapnel: "Steeler" dan seterusnya yang disebut sebagai sejarahnya. Pada bulan February 1983 Yngwie berangkat dari Swedia ke Los Angeles dengan bekal keahlian dan gaya permainan barunya.
Selanjutnya permainan Yngwie dikenal dunia dengan permainannya yang sangat cepat di intro lagu "Hot On Your Heels". Yngwie kemudian pindah ke group band Alcatrazz, sebuah band yang bergaya "Rainbow" dan didirikan oleh penyanyi Graham Bonnett. Walaupun telah bergabung dengan Alcatrazz yang menampilkan sekian banyak solo hebat di lagu "Kree Nakoorie", "Jet to Jet," dan "Hiroshima Mon Amour", Yngwie masih merasa terlalu dibatasi oleh band itu sendiri. Akhirnya Yngwie berpikir bahwa hanya album sololah yang menjadi solusi terbaik.
Album solo pertama Yngwie: Rising Force (kini dinobatkan sebagai kitab musik rock Neo-Classical) berhasil memasuki nomor 60 di tangga Billboard charts untuk musik instrumental gitar tanpa berbau komersil. Album ini juga memenangkan nominasi Grammy untuk Instrumental Rock Terbaik. Tidak lama kemudian Yngwie terpilih sebagai Gitaris Pendatang Baru Terbaik di berbagai majalah dan media, Gitaris Terbaik Tahun Itu, dan Rising Force menjadi Album Terbaik untuk tahun itu juga.
Pada 22 June 1987 mendekati ultah Yngwie yang ke-24, Yngwie mengalami kecelakaan dengan mobil Jaguarnya yang mengakibatkan dia koma hampir seminggu. Penyumbatan darah pada otak Yngwie juga menyebabkan tangan kanannya tidak berfungsi. Karena takut akan karirnya yang akan berakhir itu, Yngwie dengan susah payah mengikuti terapi untuk memulihkan kembali tangan kanannya. Setelah itu Yngwie mendapat cobaan lagi dari kematian ibunya di Swedia akibat penyakit kanker yang menghabiskan banyak biaya medical. Jika Yngwie orang lain, mungkin sudah menyerah dengan nasib seperti itu, tetapi Yngwie justru berubah dan kembali ke musiknya dengan semangat tinggi.
Setelah itu Yngwie meluncurkan album yang laris manis seperti Odyssey, Eclipse, Fire & Ice, Seventh Sign, I Can’t Wait, Magnum Opus, Inspiration, Facing the Animal, Alchemy, War To End All Wars dan akhirnya Yngwie berhasil mewujudkan cita-citanya untuk bermain bersama sebuah Orkestra penuh di salah satu album terbarunya: Concerto Suite for Electric Guitar and Orchestra in Eb minor, Op. 1 (tahun 1998).
Ketika merelease albumnya Eclipse (1990), Yngwie sempat tour dan membuat konser yang sukses di Indonesia (Jakarta, Solo, & Surabaya). Rencananya pada bulan July 2001 ini Yngwie juga akan konser kembali di Indonesia, namun dibatalkan karena pemerintah USA & istrinya menasehati Yngwie akan keamanan politik di Indonesia. Padahal tiket Yngwie sudah sempat laku keras di Indonesia, penggemar Yngwie di Indonesia boleh kecewa. Kapan lagi Yngwie akan konser di Indonesia apabila keadaan politik Indonesia masih seperti ini?
Album-album berikutnya adalah Attack!! yang memuat nomor hits instrumental Baroque & Roll. Pada tahun 2003, Yngwie diajak bergabung dalam formasi G3 bersama Joe Satriani dan Steve Vai yang menelurkan 1 album dan 1 video. Setelah selesai tur bersama G3, ia merampungkan album terbarunya Unleash The Fury. Album tersebut direlease diawal taun 2005. - Paul Gilbert ("Salah satu dewa gitar dengan permainan paling cepat dan bersih")
Paul Gilbert merupakan salah satu dewa gitar seperti halnya Steve Vai, Yngwie, John Petrucci lainnya. Sebelumnya Paul dikenal melalui group bandnya Mr.Big, rekaman Mr.Big yang laku keras turut membesarkan nama Paul di dunia musik rock.
Paul sendiri sudah cukup mengegerkan dunia gitaris pada tahun 86-87 sebagai pemain gitar tercepat di dunia ketika Paul masih bergabung dengan group band Racer X. Teknik permainannya telah sempurna saat ia baru menginjak 17 tahun itu.
Pada usia 5 tahun (1971) Paul sudah mulai mempelajari gitarnya, 10 tahun berikutnya (1981) Paul coba mengirim demo rekamannya ke produser Mike Varney dan di luar dugaanya Mike sangat mengagumi permainannya di samping Tony Macalpine.
Pada tahun 1984 Paul pindah ke LA dan melanjutkan sekolah gitarnya ke GIT (Guitar Institute of Technology) dan kini telah menjadi instruktur sekolah gitar bergengsi ini.
Pada tahun 1986 dia bergabung dengan band pertamanya Racer X dengan album debutnya "Street Lethal ", kemudian "Second Heat" (1987) & "Live! Extreme Volume" (1988).
Pada tahun 1989 Paul meninggalkan Racer X dan bergabung dengan group band MR.BIG dengan pemain bass yang disegani "Billy Sheehan", vocalis Eric Martin dan drummer Pat Torpey.
Mereka meluncurkan album pertamanya "MR.BIG" dan MR.BIG tampil untuk pertama kalinya di Jepang pada bulan Oktober.
Selanjutnya Paul meluncurkan album berikutnya: "Live! Raw Like Sushi" (1990), "Mr Big - Lean into it" (1991), "Mr.Big - San Francisco Live" (1992), "Racer X - Live Extreme Volume 2? (1992), "Mr.Big - Bump Ahead" (1993), "Mr.Big - Live! Raw Like Sushi 2? (1994), "HEY MAN" & " The best of MR.BIG" (1996), "Hard Rock Cafe", " Live At Budokan " & solo " King of Club" (1997).
Lagu "To Be With You" (dari Album "Lean Into It") menduduki posisi pertama di majalah Billborad USA selama 3 minggu.
Pada tahun 1998 Paul tampil pertama kali di Jepang dengan solo albumnya. Paul meluncurkan album solo "Flying Dog". Tahun 1999 Paul kembali ke Jepang dan meluncurkan album solo kedua "Beehive Live" dan album ketiga Racer X "Technical Difficulties".
Tahun 2003 album Burning Organ dirilis, kali ini masuk ke label Indonesia dibawah naungan Staria Enterprise. Namun album berikutnya, Acoustic Samurai tidak lagi di Staria, melainkan berpindah ke label Variant Music. Kemudian Paul menggelar promo tur album "Spaceship One" hingga ke Indonesia. Hal ini disambut antusias oleh penggemar-penggemarnya, pasalnya banyak artis asal Amerika yang menarik diri karena takut disweeping oleh pihak-pihak tertentu. - Nuno Bettencourt ("Dewa gitar yang mempelopori warna Funky Metal")
Nuno Bettencourt merupakan gitaris rock yang terbaik dalam permainan ritemnya. Beberapa gitaris lain yang dapat menandingi permainan ritemnya dapat terhitung misalnya: John Petrucci, Darren Housholder dan beberapa pemain funk metal lainnya.
Kekreatifan Nuno dalam menciptakan teknik permainan baru telah dikenal sejak album pertama dan kedua group bandnya Extreme yaitu: "Extreme" dan "Pornograffitti". Tidak heran Nuno dinobatkan menjadi "Best New Talent" (pendatang baru terbaik) begitu Extreme meluncurkan album keduanya "Pornograffitti".
Sesuai dengan perkataan Nuno sendiri di interview-interviewnya bahwa cita-cita Nuno adalah menulis album berwarna funk seperti Pearl Jam, Nirvana dan sejenisnya. Oleh karena itu jika Anda ingin mendengarkan kepiawaian Nuno sebagai shredder, maka kami rekomendasikan Anda mendengarkan album Extreme: "Pornograffitti".
Album pertama "Extreme" dan album ketiga "Three Side Story" juga tidak kalah bagusnya. Justru album solo Nuno sendiri dan band barunya Mourning Widows, tidak menampilkan skill dari permainan Nuno sendiri. Bubarnya Extreme cukup mengecewakan penggemar Nuno.
Pada tahun 1982 Nuno pertama kalinya bertemu dengan vokalis Extreme: Gary Cherone. Ini merupakan awal dari band Extreme tsb. 2 tahun kemudian (1984) Nuno meninggalkan sekolahnya dan konsentrasi dalam melatih permainan gitarnya. Nuno melihat drummer Extreme: Mike Mangini di sebuah club di dalam band tribute Van Halen, ketika band-band lain sedang istirahat, Mike memainkan solo drum yang luar biasa.
1985 Nuno bertemu dengan bassist Extreme: Pat Badger yang bekerja di toko gitar Jim Mouradian di Winchester di mana Nuno selalu memodifikasi gitarnya di sana. Nama band mereka pertama kali dinamakan "The Dream" sebelum menggunakan nama "Extreme" dan menghasilkan lagu "Mutha" yang berhasil menerobos jajaran lagu di MTV. Tak lama kemudian nama band mereka diganti menjadi "Extreme" dan tampil di Festival Mare de Agosto (Santa Maria) pada tahun 1986.
Pada tahun 1987 Extreme memenangkan "Outstanding Hard Rock Act" pada tahun pertama Boston Music Awards. Mereka juga memenangkan kontes MTV video, yang ditonton juga oleh perusahaan rekaman A&M A&R scout. Pada bulan September mereka mendapat kabar baik dari A&M record untuk mulai rekaman.
Pada tahun 1989 mereka kembali disebut sebagai "Rising Star" di Boston Music Awards. Tak lama kemudian album debut mereka direlease, tetapi tidak banyak mendapat perhatian selain menjadi album terlaris minggu pertama di Boston, mencapai urutan ke 80 di US chart dan terjual 300.000 copy. "Kid Ego" menjadi single pertama mereka dan kemudian "Little Girls" dan Mutha (Don’t Wanna Go To School Today).
Guitar Magazines menobatkan Nuno sebagai "the next Eddie Van Halen"! Extreme tour ke Amerika Utara dan Jepang. Lagu "Play With Me" menjadi soundtrack film "Bill and Ted’s Excellent Adventure". Kemudian Nuno mengisi ritem gitar di lagu Janet Jackson "Black Cat".
Pada tahun 1990 Extreme merekam album keduanya "Pornograffitti" di Scream Studio (LA). Guitar magazine memberikan 6 halaman khusus untuk Nuno. Lagu Decadence Dance, Get The Funk Out direlease, tetapi tidak banyak yang terjadi.
Pada bulan Desember perusahaan gitar Washburn membuatkan gitar N4 Nuno Bettencourt Signature Series, sampai saat ini N4 membuktikan kerberhasilan penjualan gitar Nuno.
Awal kesuksesan Nuno terjadi pada bulan June 1991 ketika lagu "More Than Word" menjadi hit nomor 1 di USA dan luar negeri termasuk Israel, Belanda, dll. Nuno juga mengisi dan menjadi cover untuk video Hot Guitarist Video Magazine Premiere Volume (December "92).
Pada bulan Oktober Nuno terpilih sebagai Rocker Terseksi di majalah Playgirl dan juga memenangkan "Top of the Rock", "Songwriter of the Year", "Solo of the Year" (Flight of the Wounded Bumblebee), dan "Guitar LP of the Year" di majalah gitar "Guitar For The Practicing Musician"
Selanjutnya Extreme merelease album-album berikutnya: "III Sides", "Waiting For The Punchline" dan kemudian meninggalkan Extreme, merelease album solonya dan membentuk band barunya "Mourning Widows".
Penggemar shredder boleh kecewa dengan keluarnya Nuno dari Extreme karena album-album berikutnya Nuno semuanya berwarna funk murni, tidak terdengar lagi permainan gitar yang menampilkan skill dari Nuno. - Eddie van Halen ("Pelopor teknik two handed tapping")
Sebelum era permainan gitar shredd dipopulerkan oleh Yngwie Malmsteen pada tahun 1984, 6 tahun sebelumnya Eddie Van Halen telah lebih dulu sukses menggemparkan dunia musik. Teknik two handed tapping atau yang biasa disebut tapping saja telah berhasil secara mutlak meracuni lebih dari separuh gitaris rock yang ada di Amerika. Bukan hanya teknik tapping saja, ia juga mempopulerkan gaya permainan gitar hard rock yang sangat berbeda dari kebanyakan gitaris rock yang cukup kental permainan bluesnya. Solo gitarnya di tembang Eruption yang terdapat dalam album debut grupnya Van Halen secara mengejutkan menjadi perbincangan utama gitaris-gitaris rock dimasa itu.
Eddie Van Halen atau biasa disebut dengan panggilan singkat EVH, merupakan seorang imigran dari Belanda. Ia dan keluarganya pindah ke Amerika sekitar tahun 60an. Awalnya lebih dulu mempelajari piano dan kemudian sedikit konsentrasi di drum. Sedangkan kakaknya, Alex Van Halen malah mempelajari gitar.
Diam-diam mereka berdua saling mencuri kesempatan mempelajari instrumen yang bukan miliknya. Alex belajar drum, EVH belajar gitar. Ternyata malah keduanya sepakat bertukar alat musik. Jadilah kemudian EVH menekuni gitar.
Pada saat mulai belajar gitar, ia cukup terpengaruh dengan permainan dari Eric Clapton dan Jimmy Page. Kemudian mereka membentuk band bernama Mammoth yang akhirnya berganti menjadi Van Halen dengan masuknya Michael Anthony pada bass, dan David Lee Roth pada vocal. Band ini terbentuk secara resmi tahun 1974.
Album Van Halen yang dirilis tahun 1978 berhasil menembus charts Billboard sampai posisi 15 dan berhasil terjual sebanyak 2 juta keping yang salah satu menjadi penyebabnya adalah solo gitar EVH di lagu instrumental, Eruption.
Nama Eddie Van Halen langsung berkibar karena ia berhasil mempopulerkan teknik tapping. Meski kontribusi dari David Lee Roth sebagai vocalis yang atraktif dan fenomenal juga tak bisa dipandang sebelah mata, namun bisa dibilang nama EVH lebih menjual. Namanya menjadi perbincangan dan berkali-kali meraih penghargaan sebagai Guitarist of The Year oleh majalah-majalah.
Selain teknik tapping yang menjadi trademarknya, EVH juga dikenal dengan senyumnya yang selalu ia tampilkan dalam segala kondisi. Tak heran gitaris-gitaris muda di Amerika begitu menghormatinya. EVH kemudian membuat penampilan gitar Fender Stratocasternya menjadi berbeda. Body berwarna merah dengan garis-garis putih menjadi salah satu nilai jualnya.
Album berikutnya dimasa David Lee Roth menjadi vocalis yang dirilis adalah Van Halen II (1979) dan Woman and Children First (1980), Fair Warning (1981), Diver Down (1982), dan sebuah album yang merupakan salah satu album masterpiece dari Van Halen yaitu 1984 yang dirilis tahun 1984.
Di album 1984, EVH menampilkan permainan keyboard yang menawan. Malahan masyarakat awam lebih mengenal suara dan permainan keyboardnya di lagu Jump ketimbang teknik-teknik gitarnya. Lagu Jump berhasil menjadi juara 1 di charts Billboard.
Pada tahun 1983, sebelum album 1984 dirilis. EVH sempat bekerjasama dengan King of Pop, Michael Jackson. EVH ikut serta dalam proyek album Thriller yang nantinya terjual lebih dari 20 juta copy. Ia memoles lagu yang berjudul Beat It menjadi sedikit berwarna rock dan dance. Tak lupa juga EVH menampilkan solo gitar dan teknik tappingnya yang merajalela di lagu tersebut. Munculnya EVH di lagu tersebut mendapat respon yang luar biasa dengan perolehan menduduki puncak charts Billboard selama berminggu-minggu.
Tahun 1986 Van Halen mengalami perubahan formasi dengan mundurnya David Lee Roth dan digantikan oleh Sammy Haggar. Meskipun begitu, EVH tetap mampu menampilkan permainan-permainan gitar terbaiknya.
Album-album berikutnya seperti 5150 (1986), OU812 (1988), For Unlwaful Carnal Knowledge (1991), dan Balance (1995) masih cukup mampu memperpanjang nafas Van Halen dalam dunia rekaman. Tak lama kemudian kembali Van Halen berganti vocalis dengan masuknya Gary Cherone (ex Extreme).
Van Halen semasa Gary Cherone oleh banyak pihak dianggap sebagai era terburuk dengan ditandai kurang suksesnya album Van Halen III (1998). Tahun 2001 EVH terkena kanker mulut, ia terpaksa absen selama sekitar 2 tahun untuk proses penyembuhan. - Michael Schenker ("Salah Satu Pelopor Gitar Hero di Jerman")
Jika diadakan polling mengenai "10 gitaris terbaik Jerman sepanjang masa", saya yakin kalau nama Michael Schenker akan termasuk salah satu diantaranya. Bahkan kalaupun disuruh memilih 5 saja, saya tetap yakin namanya akan tetap masuk. Tidak aneh bila melihat sepak terjangnya mengangkat nama Jerman sebagai negara yang memiliki gitaris kelas satu dan mampu bersaing dengan gitaris handal dari Inggris dan Amerika.
Michael dan saudaranya, Rudolf memiliki hobi yang sama, yaitu bermain gitar. Michael mendapat inspirasi dalam bermusik dari 2 grup band yang cukup populer di masa itu, Wishbone Ash dan Mountain. Ia juga sempat bekerja sambilan sebagai transcriber lagu.
Tahun 70-an awal, Michael bergabung dengan band milik Rudolf, The Scorpions. Kebetulan permainan Michael cukup menonjol, namun saat band ini merilis album debutnya, Lonesome Crow pada tahun 1972 album itu kurang mendapat respon yang positif. Satu hal yang perlu dicatat, saat itu usia Michael baru 17 tahun.
Setelah mengikuti tur promo bersama Scorpions, band lain bernama UFO tertarik dengan talentanya. Kemudian Michael meninggalkan Scorpions dan bergabung dengan UFO yang baru saja ditinggal gitarisnya, Michael Bolton (tapi bukan Michael Bolton penyanyi).
Bersama UFO, Michael sempat merilis beberapa album, diantaranya Phenomenon (1974), Force It (1975), No Heavy Petting (1976), Lights Out (1977), Obsession (1978). Pada era Michael Schenker inilah nama UFO bisa berkibar dan mendapat pendengar yang lebih luas sampai ke pasar Amerika.
Permainan gitarnya menunjukkannya sebagai seorang musisi yang berpengaruh. Ia juga terkenal dengan sosoknya yang menenteng Gibson Flying-V dengan body yang dimodif pada bagian catnya, setengah hitam, setengah putih.
Akan tetapi setelah album merilis album Obsession, Michael dikeluarkan dari UFO karena kecanduan alkohol dan kembali ke Scorpions. Ia menggantikan Uli John Roth yang sebelumnya menggantikan posisinya saat ia keluar dari Scorpions dulu.
Sekembalinya ke Scorpions, ia ikut merilis album Lovedrive pada tahun 1979. Namun sayang, ketika sedang menjalani tur pertamanya di Amerika, Michael lagi-lagi absen hadir karena kecanduan alkohol. Album tersebut tidak diterima di Amerika terutama karena masalah cover albumnya. Michael pun digantikan oleh Matthias Jabs yang akhirnya menjadi gitaris permanen Scorpions sampai saat ini.
Setelah keluar dari Scorpions, ia sempat diangkat sebagai gitaris pengganti sementara Joe Perry di Aerosmith. Setelah itu Michael memutuskan untuk bersolo karir dengan membentuk Michael Schenker Group atau biasa disebut MSG.
Di band ini Michael bertindak sebagai konseptor dan gitaris. Sedangkan untuk vocal diisi oleh Robin McAuley. Album-album yang dirilis adalah Michael Schenker Group (1980), MSG (1981), Assault Attack and One Night at Budokan (1982). Album-album tersebut cukup berkarakter hingga membuat Ozzy Osbourne sempat menawarinya menjadi gitaris Ozzy setelah kematian Randy Rhoads.
Tahun awal-awal 90an, Michael juga sempat bergabung dengan Ratt untuk bermain unplugged MTV. Selain itu ia pernah tampil dalam kolaborasi Contraband bersama personel-personel dari band-band rock saat itu seperti Shark Island, Vixen, Ratt, dan L.A. Guns). Kemudian ia merilis album Thank You (1993), dan Unforgiven (1999). Tahun 1995, Michael kembali bergabung dengan UFO, dan merilis album Walk On Water dan kemudian tahun 2002 merilis album Sharks.
Dengan suara gitar yang khas dan riff-riff gitar yang catchy sebagai kontribusinya pada Queen, Brian May menjadi salah satu dari sekian musisi yang berbakat dan memberikan pengaruh pada tahun 70-an. - Bryan May
Ia adalah anak seorang tukang servis elektronik dan musisi. Ia ternyata ikut mewarisi bakat ayahnya dalam bidang menyolder dan musik. Namun ia sanggup menyeimbangkan ketertarikannya akan teknologi dan musisi dan kemudian melanjutkannya untuk meraih gelar di bidang Fisika. Di saat senggangnya ia menyempatkan diri membuat gitar dibantu oleh ayahnya. Gitar buatannya ini yang kemudian menjadi trade-mark Brian May di setiap penampilannya.
Saat masih sekolah ia membentuk band pertamanya, 1984, yang merupakan sebuah band instrumental. Band mereka manggung di sekitar kota London dan membuka pertunjukan artis/band legendaris seperti Traffic, Jimmi Hendrix, Pink Floyd dan Tyrannosaurus Rex (nantinya dikenal sebagai T-Rex). Pada tahun 1968, ia meninggalkan bandnya untuk memfokuskan diri pada studinya di Imperial College.
Saat kuliah, May sering nongkrong bareng Roger Taylor dan kemudian membentuk band hard rock trio bernama Smile. Ia malah juga meneruskan pendidikannya setingkat S2 pada jurusan matematika dan ilmu pengetahuan, tapi kemudian malah memutuskan untuk lebih fokus pada musik secara penuh.
Band Smile menandatangani kontrak dengan Mercury Records dan merilis satu single yang tidak meraih sukses. Kemudian mereka menambahkan Freddy Mercury pada posisi vokal dan merubah nama band mereka menjadi Queen.
Setelah bekerja dengan beberapa bassist, akhirnya mereka menemukan dan merekrut John Deacon pada tahun 1971. Queen kemudian menandatangani kontrak dengan EMI dan merilis debut albumnya (Queen) pada tahun 1973 dengan kekuatan utama album mereka: kombinasi vokal opera Freddie Mercury dan riff-riff keren Brian May.
Brian May bersama Queen terus berekperimen dengan mengembangkan sound mereka. Albun A Night at the Opera dirilis tahun 1975 dan menelurkan lagu hit "Bohemian Rhapsody", yang memperdengarkan kemampuan musikal dan kehebatan mereka sebagai pengarang lagu.
Kedua album mereka selanjutnya A Day at the Races pada tahun 1976 dan News of the World pada tahun 1977 juga meraih sukses besar di radio maupun di toko musik dengan hit-hit mereka seperti "We Will Rock You" dan bahkan "We Are The Champion" dari album News of the World malah digunakan menjadi lagu kemenangan di lomba olahraga di seluruh dunia sampai sekarang.
Yang menarik adalah, salah satu lagu dari album News, "It’s Late" adalah lagu dimana Brian May menggunakan two-handed tapping dan hammer-on saat solo gitar dan setahun kemudian baru Eddie Van Halen terkenal dengan two-handed tapping gayanya sendiri. May menyebutkan bahwa tehnik tapping yang ia gunakan diconteknya dari seorang gitaris band club di daerah Texas. Menurut gitaris band tersebut malah Billy Gibbons (ZZ Top) yang pertama kali menggunakannya dan ia hanya menconteknya.
Setelah Freddie Mercury wafat di tahun 1991, Queen secara resmi bubar. Hanya pada event-event khusus seperti "Concert for Life tribute to Mercury" di tahun 1992 (menggalang dana untuk Mercury Phoenix Trust, dibentuk untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya AIDS).
Brian May kemudian lebih fokus bersolo karir, merilis Back to the Light pada tahun 1993. Setahun kemudian ia merilis Live at Brixton Academy, yang isinya adalah gabungan dari lagu-lagu solo karirnya dan dari koleksi lagu Queen. Pada tahun 1998 ia merilis album berjudul Another World dimana Jeff Beck ikut mengisi gitar pada lagu "The Guv’nor"
Rabu, 22 September 2010
ATTACK ATTACK ! VS ATTACK ! ATTACK !
sepintas memang tidak ada perbedaan, namun lihat pada tanda seru-nya.
Pertama kali, saya mengira bahwa sama saja, satu tanda seru atau dua tanda seru.
Ternyata kedua-duanya merupakan band yang cukup mantap!!
Meskipun memiliki aliran yang berbeda, dan saya akan membahas kedua band ini.
Merupakan sebuah band Metalcore asal Westerville, Ohio, Amerika Serikat yang terbentuk pada tahun 2005.
Saat ini mereka tergabung dalam sebuah label, Rise Records.
Meskipun liriknya mengandung tentang ajaran Kristiani, namun mereka tidak mau disebut sebagai Christian Band.
2005-2008 : Formasi awal dan Someday Came Suddenly
Attack Attack! pertama kali dibentuk oleh Austin Charlile, Ricky Lortz, Andrew Whiting, Nick White dan Andrew Wetzel sebagai band Metalcore murni.
Beberapa bulan kemudian Nick White mengumumkan keluar dari band dan digantikan oleh John Holgado pada posisi bass.
Di awal 2008, mereka merilis sebuah album EP berjudul If Guns are Outlawed, Can We Use Swords?
Kemudian mereka bergabung dengan Rise Records pada Juni 2008.
Yang kemudian meluncurkan album Someday Came Suddenly pada akhir 2008.
Album ini berhasil menempati peringkat 25 pada Billboard Independents Albums chart, dan posisi 193 pada Billboard 200 chart, dan terjual sebanyak 3600 copy pada minggu pertama.
2008 : Keluarnya Austin
Ketika menjadi band pendukung Maylene and the Sons of Disaster, Austin Charlile sebagai sang vokalis memutuskan keluar akibat adanya kesalahpahaman dan digantikan oleh Nick Barham yang juga vokalis band For All we Know.
Di tahun 2009, untuk album Punk Goes... ke delapan, Attack Attack! menyanyikan lagu Katy Perry yang berjudul 'I Kissed a Girl' dengan Austin sebagai vokalis sebelum ia meninggalkan band.
Kemudian Attack Attack! mlakukan tour bersama Escape the Fate, William Control, Burn halo dan Black Tide di awal 2009.
Mereka juga menjadi bagian dalam Warped Tour season 2009.
Mereka juga menyanyikan lagu untuk sebuah organisasi non profit bernama Music Saves Lives, dimana para penggemarnya dapat mendonorkan darahnya.
2009-2010 : Keluarnya Nick Barham hingga sekarang
Mereka merilis video berjudul 'Stick Stickly' dalam MTV2, Headbangers Ball.
2 video mereka telah dibuat, satu mereka rilis di MySpace mereka dan satunya lagi merupakan sebuah video live 'Dr. Shavargo part.3' yang bisa didapat via online.
Pada 19 Oktober 2009, sang vokalis Nick Barham keluar dan digantikan oleh Caleb Shomo.
Mereka baru saja menyelesaikan tour bersama I Set My Friends on Fire, Miss May I, Our Last Night, dan the Color Morale sebagai bagian dalam 'Shred Til Your Dead' tour.
saat ini, mereka sedang getol dengan lagu berjudul 'Sexual man Chocolate' dalam jadwal tour mereka.
Rencananya tahun ini mereka mengeluarkan album berjudul Shazam, kita tunggu saja.
Anggota band Attack Attack!
Caleb Shomo - Lead Vocals, Synthesizers, keyboards
Johny Franck - Clean Vocals, rythm Guitar
Andrew Whiting - Lead Guitar
John Holgado - Bass Guitar
Andrew Wetzel - Drummer
Merupakan sebuah band yang berasal dari Caerphily, Wales.
Berdiri sejak tahun 2006 dan beraliran Alternative, Power Pop dan Pop Punk.
Mereka sempat menjalani tour dengan band-band terkemuka dari Wales lainnya, seperti The Blackout, Funeral for A Friend, bahkan Lostprophets.
Band ini dibentuk oleh Neil Starr yang berasal dari band Dopamine bersama Ryan Day.
Kemudian datang Will Davies dari band Adequate Seven.
Dan terakhir adalah Mike Griffiths pada drum.
Salah satu lagu mereka, 'You and Me' menjadi salah satu pengisi dalam game Guitar Hero 5.
Download Attack! Attack! - You and Me Mp3
Anggota band :Neil Starr - Lead Vocals, guitar
Ryan Day - Guitar, vocals
Will Davies - Bass
Mike Griffiths - Drums
Discography Album :
- Attack! Attack! (2008)
Single :
- This Is A Test (2008)
- Too Bad Son (2008)
MATI MENDADAK,PRIA AMERIKA BISA HIDUP LAGI
Chris adalah seorang mahasiswa yang baru lulus dan bekerja sebagai seorang kontraktor di Arizona. Saat itu Chris dan rekannya sedang liburan dan mengunjungi sebuah tempat bowling. Karena terlalu kecapaian, Chris yang diketahui punya penyakit jantung pun segera dibawa pulang oleh teman-temannya.
Dalam perjalanan pulang, Chris sempat mengirim pesan singkat pada kekasihnya. Isinya yaitu, ‘Saya mau mati’, dan 15 menit setelah mengirim pesan itu, Chris benar-benar mati, tidak bernafas lagi.
Chris ternyata mengalami serangan jantung dan dalam seketika jantungnya berhenti berdetak. Ketika sampai di rumah, ayahnya langsung memberinya nafas buatan dan menelepon 911. Saat itu sedang jam 3 pagi dan semua orang di rumah menjadi sangat panik.
Namun pihak 911 langsung memberi instruksi untuk melakukan teknik CPR. Ayah Chris pun langsung mengikuti instruksi petugas 911 itu dan ajaibnya Chris hidup kembali dan bisa bernafas. Ia bahkan tidak mengalami kerusakan otak, padahal ia sudah tidak bernafas hampir 20 menit. Menurut American Heart Association, setiap menitnya jantung berhenti, kemampuan bertahan hidup akan berkurang hingga 10 persen.
Para dokter di University of Pennsylvania’s Center for Resuscitation Science mengatakan bahwa kejadian yang dialami Chris adalah sebuah keajaiban. Dengan teknik CPR yang diinstruksikan oleh petugas 911, Chris bisa diselamatkan.
“Ketika seseorang mengalami serangan jantung, yang paling penting dilakukan adalah membiarkan darah tetap mengalir di tubuh, caranya yaitu dengan menekan dada,” ujar Dr. Ben Bobrow dari The Arizona Department of Health, seperti dikutip CNN, Kamis (15/10/2009).
“Tanpa suplai darah ke otak dan jantung, seseorang akan mati. Dan hal ini bisa terjadi dimana saja, di rumah, jalan, stasiun, kantor atau dimanapun. Butuh waktu jika harus memanggil petugas paramedis. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya tahu cara CPR yang benar,” ujar Dr. Lance Becker dari The Center for Resuscitation Science at the University of Pennsylvania.
Serangan jantung terjadi ketika pembuluh darah arteri yang menyalurkan oksigen ke otot jantung terhalang. Serangan jantung umumnya menyebabkan nyeri dada tidak lebih dari 15 menit. Namun, serangan jantung tidak memiliki gejala atau tanda. Serangan itu bisa dipicu oleh kegiatan yang melelahkan dan bisa hilang dengan istirahat.
Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) adalah teknik penyelamatan hidup yang berguna dalam berbagai kasus gawat, baik serangan jantung maupun hampir tenggelam, dimana seseorang berhenti bernapas atau detak jantung berhenti. Teknik ini merupakan kombinasi antara nafas buatan dan menekan dada.
Namun kini peneliti menyarankan agar para penyelamat cukup melakukan teknik CPR dengan menekan dada saja. Studi terkini menyebutkan bahwa dengan menekan dada setiap 100 kali per menitnya akan menaikkan peluang detak jantung hidup lagi hingga 3 kali lebih besar dibanding dengan teknik CPR yang lama (kombinasi nafas bantuan dan tekanan dada).
“Ketika detak jantung berhenti, sebenarnya darah masih punya suplai oksigen ke otak untuk sekitar 2 menit. Itu adalah sebuah proses dan artinya ada kemungkinan untuk menghidupkan kembali detak jantung dalam beberapa menit. Bahkan jika dilatih, seseorang bisa menahan nafas hingga 7 menit. Waktu menjadi sangat penting ketika Anda menolong orang pingsan atau tidak bernapas,” tutur Becker.
Langganan:
Postingan (Atom)



